Showing posts with label Pembelajar.... Show all posts
Showing posts with label Pembelajar.... Show all posts

Sunday, January 24, 2010

Sekeping Perjalanan


"Barokah itu adalah ketika bertambahnya manfaat seiring dengan bertambahnya waktu..."


Panasnya jalanan jakarta menemani jejak langkah kakiku menuju stasiun senen. Ya, siang itu aku berencana balik ke surabaya, setelah beberapa hari muter2 di jalanan ibukota. Karena jadwal keberangkatan kereta masih 3 jam lagi, maka harus menunggu. Musholla, tempat itulah yang kutuju. Sejenak kulepaskan lelah, sambil merasakan ademnya "aura" musholla.

Kuambil sebuah buku kecil yang akhir2 ini sering kubawa kemana aku pergi, lalu kubaca sembari menanti berangkatnya kereta. Baru beberapa halaman kubaca, ada seorang bapak muda yang barusan menunaikan sholat menyapaku, "assalamu'alaikum, lagi persiapan neh..?" kujawab slam beliau sambil kulempar senyum, "wa'alaikumslam, iya". Kembali beliau bertanya, "kapan?" tanpa ragu akupun jawab "insya allah akhir bulan ini".

Setelah berkenalan, kamipun berbicara panjang-lebar, saling bercerita, sampai akhirnya tema-pun menyinggung seputar dengan buku yang masih kupegang itu, buku dengan cover putih dan ornamen bunga mawar merah muda, bertuliskan "Buku Saku NIKAH, Panduan Islami Menempuh Bahtera Rumah Tangga".

Beliau yang menjadi salah seorang dosen di perguruan tinggi di Bandung tersebut lalu bercerita tentang perjalanan beliau selama ini, ditengah kesibukan beliau mengajar, juga secara bersamaan menempuh studi di 2 Universitas favorit di negri ini, di 2 tempat yang tidak pula dekat, Jogja dan Jakarta. Dalam padatnya aktivitas beliau, juga masih harus memperhatika ketiga putranya. Banyak pelajaran yang dapat kudapat siang itu, Subhanallah,, Ternyata ada hikmah di balik kesabaran, dalam lelahnya raga dan penatnya jiwa. Beberapa pesan beliau yang masih begitu lekat adalah "Istri itu adalah sebuah anugrah dari Allah, maka semuanya harus disyukuri", selain itu beliau juga menegaskan bahwa "Tidak ada namanya Cinta Kasih sebelum akad nikah dilangsungkan". Sampai akhirnya tidak terasa hampir 3 jam sudah aku berada di Musholla itu.

Jazakallah pak atas wejangan jenengan, terima kasih atas saran bapak, semoga sukses studinya, dan lulus seleksi untuk studi di Perancis, sukses juga buat istri dan putra jenengan.

-suatu siang di stasiun senen-

Friday, February 01, 2008

::Disarikan dari buku Sebuah Memoar untuk Sahabat, karangan ”Agung Iswadi”,
Ketum JMMI ITS 2006-2007::



Raport Merah yang Terwariskan

Pernah seorang dosen berkata ”anak-anak=mahasiswa yang sering ngaji dan aktif di kegiatan keislaman, biasanya kalo ngadakan kegiatan ”sering” amburadul manajemennya, Sebaliknya anak-anak yang pintar berorganisasi, tertata manajemen kegiatannya, biasanya kurang dekat dengan kegiatan keislaman.”
Dari secuil pernyataan tersebut, muncul sebuah fenomena, bahwasanya aktivis dakwah, biasanya kalah pamor dengan aktivis lainnya, terutama dalam hal manajerial, profesionalitas dan kreatifitas.Dan lucunya, hal ini terus menerus berulang, bukan sekali, namun berkali-kali menjadi tradisi antar generasi. MBA (Manajemen Berbasis Afwan) masih pula menjadi trandsetternya... Apakah kualitas aktivis dakwah sekarang sedang menurun??
Kaidah dakwah, mengajarkan bahwa kualitas tarbiyah pelaku dakwah pasti akan sebanding dengan akselerasi dan manuver dakwah yang dihasilkan. Karena si pelaku telah melalui rentetan marhalah, penempaan pikroh di tiap fasenya, telah merasakan tajribul amal (latihan-latihan), bergulat dengan qodhoya-qodhoya di medan perangnya yang semakin membentuknya pada pendewasaan berpikir dan bertindak.
Jadi jika ada aktivis dakwah yg loyo, lemah manuvernya, mandul kreatifitasnya, maka proses ”Tarbiyah”nya layak dipertanyakan...

Mulai saat ini, apapun profesinya, dimanapun tempatnya. Bersungguh-sungguhlah dalam menunaikan tugas amanah dakwah. Karena ia adalah sebuah tugas mulia yg hanya untuk insan-insan terpilih.

”Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan menyaksikan pekerjaanmu.....” (At Taubah : 105)

Karena sesungguhnya kerja ini adalah rahmad,
Kerja ini adalah Amanah,
Kerja ini adalah Panggilan mulia,
Kerja ini adalah aktualisasi diri,
Kerja ini adalah ibadah,
Kerja ini adalah seni,
Kerja ini adalah Kehormatan,
Dan tentunya kerja ini adalah pelayanan...

Sudah saatnya orang melihat bahwa pekerjaan dakwah ini adalah ukiran prestasi. Bukan kekurangan dan kesalahan warisan.

Friday, January 25, 2008



"Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampaikalian sendiri merasa jemu." (HR Al Bukhari)

Sudah banyakkah hal yang kita tahu? sudah banyakkah keterampilan yang kita punya? Sudah luaskah wawasan kita? sudah banyakkah manusia yang kita kenal? sudah banyakkah kata yang terucapkan? sudah banyakkah pemikiran yang tersalurkan? sudah terwujudkah ide dan rancang karya di pikiran? Demi Allah, ada banyak ilmu yang belum kita amalkan...

Padahal Allah telah menyediakan begitu banyak ladang sebagai lahan amal buat kita. Ada banyak masjid yang "kesepian", TPA kekurangan pembina, Acara syiar da'wah yang kurang lancar dan kurang greget karena pungga2wanya kelebihan amanah, pengelolaan kurang profesional yang terlihat dari kerja panitia dakwah Ramadhan di Kampus kemarin, LDK masih pontang-panting dan compang camping dalam mengadakan acara, ada banyak "aktivis" REMAS yang pacaran, wuih..

Mungkin itu baru yang dekat dan kecil, yang dekat tapi besar, ada ribuan tetangga muslim kita yang miskin, ratusan anak jalanan lalu lalang disekitar kita, ratusan anak muda kehilangan jati diri tergerus budaya hedonis, jutaan umat terancam kristenisasi dan pemurtadan, dll.

Yang jauh dimata tapi harusnya dekat di hati? Jutaan pengungsi Palestina meregang nyawa.
Bocah polos nan lugu dengan ketapel menghadang tank dan buldozer Israel, Muslimah yang diteror, ditarik jilbabnya dan diperkosa. Demi Allah, ada banyak hal yang akan ditanyakanNya kepada kita, soal ukhuwah, cinta dan kepedulian...

"Saya kan juga masih bodoh soal agama, belum layak ambil bagian dalam dakwah. Sepantasnya saya dida'wahi dulu sampai benar-benar bisa. Baru memang kalau nanti saya bisa ceramah, ajak deh saya berdakwah"

Ketahuilah, bahwasanya kalau da'wah hanya ceramah, maka dunia hanya perlu lidah, tak perlu anggota badan yang lain !

Ketika kita bisanya hanya mengebut, tak ada keterampilan laen, betapa berharganya anda sebagai penjemput ustadz pengisi kajian, pun ketika anda hanya seorang yang suka jajan,
andalah referensi sie konsumsi pencari konsumsi terlezat dan "termurah". Ataukah anda
seorang yang suka berpetualang, maka anda pantas jadi referensi dan surveyor tangguh
bagi tim outbond islami. Atau mungkin anda banyak kenalan para sopir, bukankah kita butuh
sie Transportasi? Pun kalau anda bercita-cita menjadi pebisnis sukses, mengapa tidak sejak
sekarang bergabung dengan sie Dana&Usaha? dan yang pasti, anda sendiri yang paham akan
kemampuan dan kemauan diri anda sendiri...

Kalau saja kita bisa meraba masa depan, dibutuhkan orang-orang seperti anda, untuk menghadapi tantangan dan hambatan yang dibutuhkan sebagai rantai penggerak roda
dakwah ini. Dibutuhkan sosok-sosok profesional di berbagai bidang untuk menjawab
tuntutan ummat, teruslah menatap masa depan... Hingga akhirnya akan terjawab pertanyaan
"Mana kontribusi da'wah bagi kemajuan peradaban?" dengan atau tanpa sebuah jawaban
secara lisan.

Kalau kita menengok kebelakang, investasi Utsman telah memakmurkan seluruh Madinah.
Entrepreneurship Abdurrahman bin Auf telah membangun keseimbangan ekonomi ummat
(yang sebelumnya dikungkung hegemoni yahudi). Keuletan petani seperti Abu Thalhah telah
menjamin ketahanan pangan Madinah. Kemahiran Asy Syifa' binti Abdillah yang telah
menjaga kesehatan penduduk Madinah, Administrasi ala Umar bin Khaththab untuk
mensejahterakan negrinya, kejelian akunting Abu Ubadah telah menjamin pemerataan dan
keadilan ekonomi masyarakat.
Ataupun kelihaian perang Khalid yang membuka wilayah-wilayah baru, kecerdikan Amr bin
Ash telah menaklukkan banyak tanah tanpa pertumpahan darah. Begitulah...

Maka kini, mungkin dalam keterbatasan kita, bercita-cita tinggilah...
Siapapun kita, dengan segala yang kita punya...
Kerjakan semuanya yang kau bisa, sampai batas kelelahan menghampiri...
Malam ini, saat kau rasakan pegal di punggung, ngilu di kaki dan nyeri di sendi (maaf, ini
bukan iklan parem kocok pegel linu) berbaringlah bertafakur di tempat tidur.
Bermuhasabahlah sambil merilekskan tubuhmu.
Rasakan kenyamanan istirahat yang sangat, lalu bolehlah engkau bersenandung seperti yang dilantunkan Hijjaz :
selimuti diriku
dengan sutra kasih sayangMu
agar lena nanti, kumimpikan surga yang indah
Abadi
pabila ku terjaga
dapat lagi kurasai
betapa harumnya, wangian surga firdausi
Oh Illahi
(Hijjaz:sebelum mata terlena)

Semoga segala kelelahanmu, berhadiah pijatan lembut bidadari.............



disarikan dari "Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim -- Salim A. Fillah"
elfariedi.blogspot.com / fariedi.multiply.com

Tuesday, November 20, 2007

Abdurrahman Bin 'Auf

Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat beliau diijinkan Allah hijrah ke Madinah. Abdurrahman menjadi pelopor bagi orang-orang yang hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Dalam perantauan, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar. Maka Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi' al-Anshari r.a.

Pada suatu hari Sa'ad berkata kepada saudaranya, Abdurrahman, "Wahai saudaraku Abdurrahman! Aku termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah. Hartaku banyak. Saya mempunyai dua bidang kebun yang luas, dan dua orang pembantu. Pilihlah olehmu salah satu di antara kedua kebun itu, kuberikan kepadamu mana yang kamu sukai. Begitu pula salah seorang di antara kedua pembantuku, akan kuserahkan mana yang kamu senangi, kemudian aku nikahkan engkau dengan dia."

Jawab Abdurrahman bin Auf, "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Saudara, kepada keluarga Saudara, dan kepada harta Saudara. Saya hanya akan minta tolong kepada Saudara menunjukkan di mana letaknya pasar Madinah ini."

Sa'ad menunjukkan pasar tempat berjual beli kepada Abdurrahman. Maka, mulailah Abdurrahman berniaga di sana, berjual beli, melaba dan merugi. Belum berapa lama dia berdagang, terkumpullah uangnya sekadar cukup untuk mahar menikah. Dia datang kepada Rasulullah memakai harum-haruman. Beliau menyambut kedatangan Abdurrahman seraya berkata, "Wah, alangkah wanginya kamu, hai Abdurrahman."

Kata Abdurrahman, "Saya hendak menikah ya Rasulullah."

Tanya Rasulullah, "Apa mahar yang kamu berikan kepada istrimu?"
Jawab Abdurrahman, "Emas seberat biji kurma."

Kata Rasulullah, "Adakan kenduri, walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."

Kata Abdurrahman, "Sejak itu dunia datang menghadap kepadaku (hidupku makmur dan bahagia). Hingga seandainya aku angkat sebuah batu, maka dibawahnya kudapati emas dan perak."

Siapa Abdurrahman bin ‘Auf?

  1. Adalah seorang shahabat yang pernah membagikan 700 kendaraan yang syarat dengan muatan kepada penduduk Madinah.
  2. Adalah seorang shahabat yang menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar dan dibagikanya kepada keluarganya, para istri nabi, dan kaum fakir miskin.
  3. Adalah seorang shahabat yang menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan bala tentara Islam dan dihari lain 1500 kendaraan
  4. Adalah seorang shahabat yang mewasiatkan 50 ribu dinar untuk jalan Allah dan 400 dinar untuk para veteran perang Badar
  5. Adalah sahabat yang dikatakan Rasulullah bahwa akan masuk surga dengan merangkak (karena surga sudah dekat sekali kepadanya)

Nilai-nilai tersebut adalah nilai saat itu, jika ingin mengetahui nilai sebenarnya harus dikonversikan ke nilai saat ini. Kuda dan unta tidak bisa dikonversi ke harga kuda dan unta saat ini, tetapi harus dikonversi ke harga kendaraan saat ini, karena kuda dan unta saat itu sebagai kendaraan utama. Begitu juga untuk uang harus dikonversikan ke nilai saat ini.

Itulah Abdurrahman bin ‘Auf, seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia dimana juga adanya ….Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad dalam mempertahankan Agama tentulah ia sedang mengurus niagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan …..

Dan banyak lagi kebaikan serta kemuliaan dari seorang Sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surga...

Belajar Kepada Abdurrahman bin ‘Auf

Ada beberapa poin yang bisa kita pelajari dari kehidupan beliau. Beberapa pelajaran yang bisa mengubah paradigma keliru atau mitos tentang keberhasilan dalam berusaha dan harta.

  1. Bukan harta yang menentukan kita masuk surga atau neraka. Ada, atau bahkan mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa untuk meraih akhirat mereka meninggalkan dunia. Sementara Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang yang sangat kaya raya tetapi mendapat jaminan masuk surga. Harta akan menyebabkan kita masuk neraka jika mendapatkannya dan membelanjakannya dengan cara yang tidak diridlai oleh Allah SWT
  2. Modal uang bukan satu-satunya modal dalam berusaha. Saat Rasulullah SAW mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’, seroang penduduk Madinah yang kaya, menawarkan setengah harta dan seorang istri. Tetapi Abdurrahman bin ‘Auf menolaknya dengan baik dan memintanya untuk ditunjukan letak pasar. Beliau pergi ke pasar dan berdagang di sana sampai memperoleh keuntungan. Beliau tidak meminta uang ke shahabatnya.
  3. Manajemen waktu yang baik. Seperti disebutkan di atas, bahwa beliau meskipun seorang saudagar kaya, tetapi hidupnya tidak untuk dagang saja. Beliau rajin datang ke masjid beliau juga ikut berperang. Beliau adalah salah satu tentara saat perang Badar, perang Uhud, dan beberapa peperangan lainnya.
  4. Bersih. Beliau selalu berniaga dengan modal dan barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram dan syubhat.
  5. Belanja di jalan Allah tidak akan menghabiskan harta. Teladan dari beliau adalah salah satu bukti bahwa dengan membelanjakan harta di jalan Allah tidak akan membuat kita miskin.
  6. Tidak bermewah diri. Dalam cerita yang lain, jika seseorang yang belum mengenal beliau saat bersama dengan para pelayannya, maka orang tersebut tidak akan membedakan mana majikan, mana pelayan.

Dicari : Abdurrahman bin Auf Masa Kini

kehadiran Abdurrahman bin ‘Auf saat ini akan sangat membantu pergerakan dakwah kita. Bukankah banyak sekali agenda dakwah yang memerlukan biaya tidak sedikit? Mungkin tidak harus sekaya beliau, cukup
lebih baik dari keadaan saat ini beberapa kali lipat saja, sungguh akan sangat membantu pergerakkan dakwah kita.
Namun pertanyaannya, bagaimana membentuk Abdurrahman bin ‘Auf-Abdurrahman bin ‘Auf masa kini? Jika kita melihat dari pelajaran yang kita ambil dari Abdurrahman bin ‘Auf, untuk menjadi seperti beliau kita harus mau mendidik diri sendiri memiliki sikap dan keterampilan seperti beliau. Sikap dan keterampilan adalah hal yang bisa kita pelajari, bisa dipelajari oleh semua orang, sementara sikap dan keterampilan ini adalah modal utama dalam berbisnis. Mengenai modal uang, bisa mengikuti jika kita telah memiliki sikap dan keterampilan yang memadai. Sudah terlalu banyak contoh orang yang berhasil dalam bisnis tanpa modal uang atau dengan modal uang yang sedikit.

Kegiatan dakwah pun tidak bisa menjadi alasan untuk tidak berusaha. Puluhan bekas luka ada di tubuh Abdurrahman bin ‘Auf, giginya rontok akibat perang, ke masjid pun tetap rajin, tetapi tidak menghalangi beliau untuk sukses sebagai seorang saudagar. Sebaliknya, kegiatan bisnis pun tidak bisa menjadi alasan untuk tidak berdakwah dan jihad, sebab Abdurrahman bin ‘Auf adalah contoh sempurna yang bisa mengatur kehidupan ibadah, berdakwah, jihad, dan berdagang. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

(disarikan dari berbagai sumber)

Friday, October 26, 2007


Fiqih Da’wah: Antara tasyaddud (yang keras) dan tasahhul (kebablasan)




Seorang Al Akh bercerita, ada seorang ustadz ingin menda’wahi suku dayak pedalaman, mereka adalah suku yang tidak mengenal batas aurat. Hal yang biasa bagi mereka keluar rumah mengenakan celana dalam saja. Suatu hari, Al Akh ini bersama beberapa kawannya berkunjung ke rumah ustadz tersebut. Al Akh ini begitu terkejut, karena ustadz tersebut menyambutnya hingga ke luar rumah hanya mengenakan celana dalam saja. Ketika ditegur, ustadz itu mengira bahwa yang datang adalah orang-orang Dayak yang menjadi objek da’wahnya! Jadi, ia seperti itu agar lebih diterima di masyarakat Dayak.

Sementara itu, ada pula launching calon Gubernur Ibu Kota –agar lebih merakyat, pluralis, dan inklusif-di dalamnya ada hiburan musik bekerjasama dengan seorang enteirner ternama. Di antara beragam acaranya, akhirnya ada request dari penonton untuk menyanyikan dangdut, tanpa daya ditolak oleh panitia. Akhirnya terjadilah telah yang terjadi. Sang artis dangdut dengan segala kemaksiatan dan goyangannya. Sementara penontonnya adalah wanita berjilbab rapi, ibu-ibu pengajian, dan laki-laki yang faham agama. Sebagaimana yang santer diberitakan (detik.com), sebagian penonton ada juga yang berjoget ria. Manusia pun terheran-heran, sementara kaum pendengki semakin membencinya. Jika sudah seperti itu, maka tidak jelas lagi mana yang ikut joget atau tidak. Mana syetan, mana yang shalih? Tidak jelas! Yaa hasratan ’alal ’Ibaad! Betapa besarnya penyesalan hamba-hamba itu! Rasulullah Shalallahu ’Alaihi wa Sallam mencela dengan keras, bahkan teramat keras, bahwa wanita yang melenggak-lenggokan tubuhnya di depan laki-laki yang bukan mahram, jangankan surga, baunya pun tak dia dapatkan. Yang joget berdosa, penontonnya berdosa, pemrakarsa (tim sukses) acara berdosa. Lalu, jika itu diikuti tim sukses calon lain, maka yang pertama kali mengadakan akan terus mendapatkan akumulasi dosa dari yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa pihak yang mengikutinya. Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim. Entah, apakah ada pertimbangan fiqih da’wah? Dan fiqih da’wah model apa yang digunakan. Yaa Allah .... seandainya masyayikh da’wah seperti Syaikh Hasan al Banna melihat ini, atau Syaikh Said Hawa dan Syaikh Sayyid Quthb yang jelas-jelas mengharamkan penghasilan para artis, niscaya mereka akan mengingkari dengan teramat keras dan menyebutnya sebagai salah satu bentuk jahiliyah abad dua puluh! Alasan fiqih da’wah, tidak boleh menghalalkan yang jelas-jelas haram, seperti dangdut, dengan segala simbol maksiat yang ada di dalamnya, baik dengan joget atau tidak, sama saja. Sebenarnya bukan hanya dangdut, musik jahiliyah apa pun secara esensi sama saja, baik itu rock, pop, jazz, dan lain-lain. Masih bagus mereka bekerjasama dengan Opick, atau SNADA. Jika dikatakan: ”itu semua terjadi diluar kendali.” Maka, seharusnya siapa saja yang terlibat di dalamnya harus hati-hati, tidak lalai, memperhatikan halal-haram, serta memperhatikan nasib citra positif yang telah lama dibangun. Ini mengingatkan kami tokoh pemikir politik Barat dahulu, yakni Nicolo Machiaveli yang berprinsip tubarrirul washilah (menghalalkan segala cara) untuk mencapai tujuan politiknya. Inilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. Sungguh, ini adalah marah karena Allah ’Azza wa Jalla. Hampir tiga puluh tahun da’wah dibangun oleh ribuan kader, jangan sampai dirubuhkan oleh segelintir manusia dengan tujuan sesaat. Bukankah aku telah menyampaikan? Allahummasyhad (Ya Allah saksikanlah!)

********

Kami pernah mengalami, berjalan bersama seorang ustadz di kampung kami tinggal, sekitar tahun 1997M. Saat itu selesai shalat tarawih, kami melewati sekelompok anak muda yang tengah asyik main catur, ternyata di antara mereka adalah keponakan dari ustadz ini. Marahlah ustadz tersebut, ia membanting papan catur, membuat para pemuda berlarian. Keesokan harinya, para pemuda ini bukannya surut, justru membuat berita miring tentang si ustadz dan remaja mesjid. Anak-anak muda tersebut bahkan menjadi musuh da’wahnya, lantaran sikap keras ustadz itu.

*******

Demikianlah dua gambaran berlawanan, kasus pertama dan kedua, adalah contoh untuk yang kebablasan, adapun yang ketiga adalah contoh untuk yang tatharruf (ekstrim).

Manhaj Tawasuth (pertengahan)

Inilah sikap yang kami ambil, semoga selamanya tidak bergeser dari manhaj ini. Termasuk dalam urusan da’wah. Karena demikianlah Islam sebenarnya dan –justru- menjadi musuh besar orang kafir. Sebab sikap ini, justru banyak diminati umat manusia, dengan pertumbuhan yang cepat, sehingga menjadi ancaman besar bagi Barat. Sementara yang keras, cenderung mempersempit dan mempersulit, atau yang kebablasan yang cenderung mengajak bebas nilai, paling tidak peluruhan nilai yang melewati ambang batas; justru semakin menepi dan marjinal.

Allah Jalla wa ’Ala berfirman:

“Dan Kami jadikan kalian sebagai umatan wasathan” (QS. Al Baqarah: 143)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir ummatan wasathan berarti umat yang adil, pilihan dan terbaik. Dikatakan, “Quraisy adalah suku pertengahan di Arab secara garis keturunan (nasaban) dan negri tempat tinggal (Daaran), yaitu sebagai suku terbaik di sana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pertengahan (wasathan) di antara kaumnya, yaitu yang paling mulia nasabnya, darinya ada istilah shalat wustha yaitu shalat paling utama, yakni Ashar.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Azhim, 1/190)

Penulis Syarh al Aqidah al Wasithiyah mengatakan, “Umat Islam adalah pertengahan antara agama-agama (milal), sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan (umatan wasathan).” (QS. Al Baqarah:143), sedangkan Ahlus Sunnah adalah pertengahan antara firaq (kelompok-kelompok) yang disandarkan kepada Islam. (Said bin Ali bin Wahf al Qahthany, Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullah, hal.48. muraja’ah. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin. Cet.2, Rabiul Awal 1411H. Penerbit: Ri-asah Idarat al Buhuts al ‘Ilmiyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad)

Khalifatur rasyid kedua, Umar al Faruq Radhialllahu ’Anhu berkata, ”Khairul umuur awsathuha.” (Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan).

Apakah yang dimaksud dengan pertengahan itu? Yaitu kita berjalan di atas mizan (timbangan) dan pedoman yang sehat dan seimbang, tak ada keraguan di dalamnya, tak ada kebatilan baik dari depan atau belakangnya, tak ada yang bengkok baik ujung atau pangkalnya, yaitu manhaj Al Qur’an dan As Sunnah, dengan pemahaman umat pertengahan, yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (QS. Al Mulk: 3)

Fiqih Da’wah Terhadap yang Jelas-Jelas Haram

Terhadap perkara yang jelas-jelas mungkar, haram, bid’ah, khurafat, syirik, dan tak ada perselisihan para ulama tentang status hukumnya, maka fiqih da’wah kita adalah memeranginya, dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.

Dari Abu Said al Khudri Radhiallahu ’Anhu, aku dengar Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu rubahlah dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim. Riyadhus Shalihin, Bab al Amr bil Ma’ruf wa An Nahyi ’an al Munkar,no. 184)

Ada beberapa syarat memerangi kemungkaran, yaitu kemungkaran tersebut harus yang jelas disepakati bukan masalah ijtihadi atau masih khilafiyah, dan kemungkaran itu harus nampak bukan dicari-cari.

Beberapa contoh kemungkaran yang qath’i (pasti) seperti lokalisasi pelacuran, perjudian baik cara tradisional atau modern dengan undian berhadiah atau kirim SMS, konser-konser musik jahiliyah dengan penonton yang campur baur laki-laki dan perempuan, minuman keras, mengambil harta secara tidak hak seperti korupsi, mencuri atau merampok, perdukunan dan sihir. Masih banyak yang lain.

Bagi yang mampu merubah dengan tangan yakni kekuatan seperti waliyyul amri (pemerintah) maka ubahlah dengan kebijakan, undang-undang, atau dengan aparat keamanan yang Anda miliki.

Bagi para da’i ubahlah dengan seruan-seruan, kajian, tadzkirah (peringatan), diskusi, seminar, atau mengingatkan waliyyul amri tentang tugasnya menciptakan keamanan dan kenyamanan hidup, dan bebas dari segala penyakit sosial. Bagi yang bisa menulis, maka tulislah peringatan melalui bulletin, majalah, buku, atau selebaran. Bagi yang tidak bisa apa-apa, maka ubahlah dengan hati Anda, yang penting Anda tidak menyetujuinya, apalagi terbawa arusnya. Itulah selemahnya iman.

Ketetapan Islam yang telah menjadi aksioma, selamanya tidak akan berubah. Keharaman khamr adalah abadi, sedikit atau banyak, sampai mabuk atau tidak, dan berlaku dimana saja, Anda di kutub atau di gurun. Riba adalah haram, sedikit atau berlipat-lipat. Kewajiban menutup aurat juga berlaku abadi dan di mana saja, tidak ada perubahan, walau berda’wah kepada kaum berkoteka. Selamanya lenggak lenggoknya wanita di depan laki-laki bukan mahram adalah haram, apa pun keperluannya, akting, kampanye, apalagi sengaja memancing syahwat laki-laki. Masih banyak ketetapan lainnya.

Adapun yang bisa berubah karena perubahan kondisi, keadaan, dan zaman, adalah hal-hal yang sifatnya ijtihadi dan zhanni, atau yang tidak ada pembahasan sama sekali di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Intinya kemungkaran harus dihilangkan dengan cara yang baik dan terbaik, disesuaikan dengan kemampuan, kondisi masyarakat, dan kalkulasi dampaknya.

Allah Jalla wa ’Ala berfirman:

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl (16): 125)

Kemungkaran yang bisa dihilangkan lalu diganti dengan yang lebih baik, maka hukumnya wajib kita mengubahnya. Kemungkaran yang berkepanjangan yang bisa dirubah menjadi kemungkaran yang le bih singkat, maka wajib kita merubahnya. Kemungkaran yang dirubah namun lahir kemungkaran baru yang sama, maka silakan berijtihad untuk merubah atau tidak. Kemungkaran yang dirubah namun justru melahirkan kemungkaran yang lebih besar, maka haram dilakukan perubahan. Demikianlah kaidah emas dalam urusan inkarul munkar.

Fiqih Da’wah Terhadap yang Jelas Kebolehannya

Pada dasarnya hukum asal segala sesuatu di dunia adalah halal dan suci. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS. Al Baqarah (2): 29)

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda:

”Yang halal adalah apa-apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, dan yang haram adalah apa-apa yang Allah haramkan dalam kitabNya. Maka, apa-apa yang didiamkan olehNya, maka itu termasuk yang dimaafkan olehNya.” (HR. Tirmidzi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ”Asal segala sesuatu –dengan segala perbedaan bentuk dan sifatnya- adalah halal secara mutlak bagi anak Adam, suci, dan tidak diharamkan atas mereka untuk menyentuh atau memegangnya.”

Para ulama juga membuat kaidah, Al Ashlu fil Asyya al Ibahah illa ma warada ‘anis Syaari’ tahrimuhu. Hukum asal segala sesuatu adalah boleh kecuali ada dalil dari pembuat syariat tentang haramnya.

Intinya, bidang yang dihalalkan sangat luas dan banyak, dibanding yang diharamkan atau dilarang. Maka, sudah selayaknya kita menyikapinya dengan tidak mempersempit dan mempersulit apa-apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla lapangkan.

Sesuatu disebut boleh atau halal (dalam urusan dunia, bukan ritual ibadah), jika ia; tidak ada dalil yang melarangnya, tidak bertentangan dengan dalil khusus atau umum syariat Islam, tidak membawa mudharat atau membahayakan baik untuk pribadi atau orang lain, tidak berlebihan atau melampaui batas, tidak bertentangan dengan kaídah-kaidah pengharaman.

Ada tradisi baik di sebagian tempat yaitu membagikan makanan ke tetangga menjelang hari raya, bahkan tradisi ini sesuai dengan akhlak Islam agar kita memuliakan tetangga. Namun, lebih baik lagi jika hal itu tidak harus menunggu menjelang hari raya. Tradisi arisan, sebenarnya ini sesuai dengan akhlak Islam untuk saling menyambung silaturrahim dan ta’awun sesama muslim, selama di dalamnya tidak ada ngerumpi (ghibah).

Ini semua adalah contoh apa-apa yang Allah ’Azza wa Jalla diamkan dan maafkan. Sikap kita adalah membuka peluang untuk terjadinya. Walau bisa jadi kita ingin menjadi pribadi wara’ dengan menghindari yang mubah agar terhindar dari hal yang haram (baca: Sadudz Dzara’i), maka lakukanlah hal itu tanpa memaksakan kepada orang lain.

Fiqih Da’wah Terhadap Perkara yang Masih Diperselisihkan

Ada perkara yang telah disepakati keharamannya, ada pula yang disepakati kehalalannya. Adapun perkara yang masih medan perdebatan para ulama tentang sebuah amal atau hal, maka sikap kita adalah tasamuh (toleran). Tidak boleh saling mengingkari, menuduh, menodai kehormatan, bahkan menyerang secara fisik. Kita dibenarkan untuk mencari lalu mengikuti apa-apa yang lebih kuat dan argumentatif menurut pandangan ulama tertentu, tetapi tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain, selama perbedaan tersebut masih dalam ruang lingkup furu’ fiqh, bukan masalah aqidah.

Syaikh Ibnu Baz berpendapat bahwa bersedekap ketika i’tidal adalah sunnah, sebaliknya Syaikh al Albany menyatakan itu bid’ah. Dua kesimpulan yang amat berseberangan. Namun keduanya tidak saling menyerang, mereka lapang dada satu sama lain.

Dalam masalah perdamaian Palestina dengan Israel pada medio 90-an, Syaikh Ibnu Baz membolehkan, sedangkan Syaikh al Qaradhawy melarangnya. Keduanya saling memberikan tanggapan dalam bentuk tulisan, dengan bahasan yang ilmiah dan perkataan yang santun dan saling memuji. Namun sayangnya, justru yang rewel adalah bawahannya.

Tentang haramnya catur, para ulama berselisih pendapat. Imam Ibnu Hajar mengatakan hadits-hadits yang mengharamkan catar tak satupun yang tsabit (kokoh). Ada pun, Imam Ibnu Qudamah mengatakan haramnya catur karena analogi (qiyas)dengan dadu (nard). Imam Asy Syafi’i menyebutkan bahwa dahulu ada sahabat dan tabi’in yang memainkannya. Namun, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu pernah marah dengan orang yang main catur, lalu mengutip firman Allah surat Al Anbiya (21) ayat 52:

"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?”

Begitu pula masalah isbal (menjulurkan celana atau kain sarung melebihi mata kaki), para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengharamkan baik dengan atau tanpa sombong (khuyala). Imam Asy Syafi’i sendiri sekadar memakruhkan saja. Ada pun Imam Ibnu Abdil Bar menyebutkan bahwa masalah pakaian tergantung tradisi disebuah daerah, tentu selama menutup aurat.

Nah, tentu perselisihan para ulama dalam zona khilafiyah, harus disikapi secara elegan dan dewasa. Sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafus shalih. Sikap keras dalam masalah seperti ini, tidak akan membawa dampak apa-apa kecuali perlawanan dari yang berbeda.

Wallahu A’lam wa Lillahil ’Izzah

Sumber : perisaidakwah.com
oleh : Farid Nu'man

Monday, October 22, 2007

MP3 PLAYER ALTERNATIF

Bagi sebagian orang yang suka memainkan musik dalam komputer, seringnya hanyamenggunakan mp3 player semacam Winamp ataupun jet audio. Nah, biasanya juga, pas make komputer buat ngetik di Ms. Word dan ngedit gambar pake Photoshopatau ngrunning beberapa program yang mbutuhkan kerja kerasnya komputer, biasanya paling enak sambil muter mp3, itu bukan jadi masalah ketika komputerdipake multitasking
dengan spesifikasi komputer yang bagus, pasti semua program bakalan jalan tanpa halangan, lancar jaya...nah kalo yang spesifikasinya pas-pasan, gmn?? Ya sebenarnya juga ga ada masalah, tapi ya gantian, namun ini itu ketika running, ga mbutuhkan kbisa disiasati. Bagi yang belum tahu, ada mp3 player yang namanya XM PLAY , nah program ini ga perlu diinstall, cuma tinggal masukkan file dengan drag n' klik atau add file dan dimasukkan ke playlist aja. Nahitu salah satu kelebihannya, selainerja yang memberatkan memori, jadi bisa dimultitaskingkan dengan program-program yang lain. Program ini mendukung type file OGG / MP3 / MP2 / MP1 / WMA / WAV / CDA / MO3 / IT / XM / S3M / MTM / MOD / UMX audio formats, dan playlist type PLS / M3U / ASX / WAX. Bagi yang sudah tahu, yah sekedar info saja.. Bagi yang ingin program itu bisa klik disini .

Friday, October 19, 2007

Thursday, September 13, 2007


Khutbah Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu adalah ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan syiyam dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fukara dan masakin. Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.

Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hambanya dengan penuh kasih;Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-pungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah Ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-'Alamin.

Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu. (Sahabat-sahabat bertanya:" Ya Rasulullah!Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan:)

Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air. Wahai manusia! Siapa yang membaguskan ahlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari Kiamat. Barang siapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-nya.Barangsiapa menyambungkan tali persudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan , Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya adalah ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardhu dibulan yang lain. Barang siapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur'an pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.

Amirul Mukminin k.w. berkata,:Aku berdiri dan berkata,"Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama dibulan ini?" Jawab Nabi:Ya abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".

Di kutip dari:"Puasa Bersama Rasulullah", karangan Ibnu Muhammad, Pustaka Al Bayan Mizan.

Tuesday, October 03, 2006


Conan Edogawa...!!!

Conan, adalah bacaan wajib saya pas ketika SMA dulu. Bukannya Qur'an, buku pelajaran atau buku pengembangan diri. Ketika pas diputer filmnya di TV, semua kegiatan harus ditinggalkan, ga peduli kalo ibu butuh bantuan bwt nganter ke pasar atw pas bapak sendirian harus ngangkat karung pupuk ke sawah atau amanah laen yang seharusnya di jalankan seorang anak (maaf buk, anakmu waktu itu memang butuh hiburan, jadi harap maklum ya, kan masih kanak2,..!!). Memang ketika itu saya benar-benar kagum terhadap sosok detektif yang pantang menyerah ketika menghadapi segala tantangan. Tenang dalam tekanan. Berani dalam kesendirian, dan kehadirannya selalu diharapkan oleh banyak orang... Meskipun begitu dia selalu ingin menutupi segala kontribusinya, rendah hati, ikhlas, dan menerima keadaan yang telah menimpa dirinya.

Namun itu dulu...
Insya Allah kalo sekarang sudah ngga', paling2 baca komik sewaan, itupun yang nyewa temen.
Kalo ingat dulu, rasanya nyesel banget. Betapa kecewanya bapak ketika anaknya yang sudah SMA belum mengerti mana hak mana kewajiban, mana yang harus dilakukan dan mana yang harus segera ditinggalkan,,

Tapi setidaknya conan mengajarkan, kalo berbuat baik itu ga perlu diperlihatkan, sehebat atau sebagus apapun perbuatan itu. Atw istilahnya ikhlas lillahi ta'ala (ya memang gitu seharusnya klo pengin jadi hamba-Nya yang mukhlish).
Karena keikhlasan itu tidak terlihat, namun pancarannya akan dirasakan oleh orang-orang disekitarnya.